Alhamdulillah wa sholatu wa salamu 'ala sayyidina Muhammad saw. Semoga Allah swt mencurahkan rahmat, taufik, dan hidayah kepada kita semua. Saya tulis nasihat-nasihat ini khusus untuk anak-anakku tercinta: fathimah najmatunnisa dan 'aisyah nuri khoirunnisa, namun juga dipersilakan bagi siapa saja yang ingin mengambil manfaat dari blog saya ini. Semoga Allah swt memberikan anak-anaku kefahaman dan keazaman untuk mengamalkannya...
Nasihat Ibunda Imam Malik
Imam Malik menuturkan:
Dahulu ibuku menyiapkan imamahku ketika aku masih kecil sebelum aku pergi ke halaqoh-halaqoh ilmu. Maka ibuku mengatakan:يَا مَالِك، خُذْ مِنْ شَيْخِكَ الْأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ“Wahai Malik, ambillah dari gurumu adabnya sebelum ilmunya!”
pesan pertama ayah
Wahai anak-anakku....., belajarlah secara talaqi (melalui seorang Guru), perhatikan bagaimana akhlak dan adab Gurumu, karena darinya kalian akan mengambil teladan dan perhatikan bagaimana sanad ilmu Gurumu {baik sanad riwayat (silsilah guru) maupun sanad diroyat (silsilah pemahaman)}, karena darinya kalian akan mengambil ilmu. Maka dari itu, carilah Guru yang memiliki akhlak dan adab yang mulia dan memiliki sanad ilmu yang bersambung (tidak terputus) kepada para imam mujtahid, para mufasir, para muhaddist, dan para ulama salaf hingga Rasulullah saw.
Thursday, August 20, 2015
Sunday, August 16, 2015
Didikan sang Guru dalam Keluarga
Pernah ada seseorang yang mengaku-aku sebagai pemilik tanahnya al-Habib Umar bin Hafidz. Ia mengatakan bahwa tanah itu adalah miliknya. Maka keesokan harinya Habib Salim, putera Habib Umar, mendatangi orang tersebut dan menjelaskan panjang lebar bahwa tanah itu bukan miliknya tapi milik Habib Umar. Surat-surat resminya pun ada di tangan Habib Umar.
Namun orang tersebut tidak bergeming, tetap ngotot mengakui tanah itu adalah miliknya. Akhirnya dengan terpaksa Habib Salim mendatangi sang ayah, Habib Umar bin Hafidz, seraya menjelaskan semuanya. “Abah, si fulan mengaku-aku tanah kita yang ada di daerah sana adalah miliknya,” tutur sang anak.
Pengorbanan sang Guru demi Memuliakan Penuntut Ilmu
ini adalah pengalaman saya (Habib Ahmad bin Muhammad Alkaff) yg tak terlupakan tentang Alhabib umar bin hafidz.
Waktu itu pertengahan april 1994 musim dingin ditarim hadramaut mulai menyapa kami yg memang kami belum terbiasa dgn dinginnya cuaca tarim ketika musim dingin. Alhabib umar pun telah menyiapkan untuk kami para santrinya dari indonesia yg waktu itu sangatlah manja sebuah selimut tebal yg mahal. masing masing dari kami mendapatkan satu selimut kisah pun bermula seperti biasa selepas asar kami dan Alhabib umar menuju kota tarim untuk menghadiri rauhah dan maulid dikota tsb. selepas acara kami pun kembali kekediaman Alhabib umar dikota Aidid. biasanya kami pulang larut malam. dan karena pada waktu itu Alhabib umar hanya memiliki 1 mobil maka kami pun selalu berebutan untuk menaiki mobil tsb. terkadang mobil nisan patrol tsb dimuat oleh 20 orang lebih sehingga penuh didalam dan diatas mobil. kami berebut karena memang jika kami tdk dapat tempat dimobil tsb terpaksa kami akan pulang dgn berjalan kaki yg berjarak 5 kilo kurang lebih.
Kecintaan sang Guru kepada Penuntut Ilmu
Pernah pada bulan ramadhan ada seseorang yang ingin menyediakan makanan buka puasa untuk Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, seorang Ulama besar Muhaddist dari Makkah, dan untuk orang-orang yang bersama beliau. Orang tersebut terus mendesak Beliau, akhirnya Beliau menyetujuinya agar berbuka puasa di Miqat Ji’ranah.
Setelah tiba di Ji’ranah orang tersebut meminta kepada beberapa murid Beliau untuk membantu menurunkan makanan dari mobilnya. Rupanya ada salah satu mereka agak teledor atau merasa keberatan sehingga dihardik oleh orang tersebut.
Beliau yang mendengar hardikannya orang tersebut, maka tampaklah marah di raut wajah Beliau seraya berkata:
Saturday, August 8, 2015
Adab penuntut ilmu kepada para Ulama
Fenomena Penuntut Ilmu Zaman Sekarang
Wahai anak-anakku, perhatikanlah....
Sadarilah kedudukan kita sangatlah jauh bila dibandingkan dengan para ahli ilmu atau ulama salafunasholih, baik dari kedalaman dan keluasan ilmunya, kedekatan hubungannya dengan Allah swt, kewaraan/kehati-hatiannya, kezuhudannya, atau ketawadhuannya.
Namun, fenomena yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah banyaknya penuntut ilmu yang baru mulai belajar ilmu tapi gayanya sudah seperti ahli ilmu. Karena merasa dirinya sebagai ahli ilmu, maka dia mensejajarkan dirinya satu level dengan ahli ilmu atau bahkan lebih tinggi dari ahli ilmu. Tidak heran jika dia mulai mengkritik dan menyalahkan pendapat-pendapat para ulama ahli ilmu. Tidak sekedar mengkritik, bahkan terkadang dia membid’ahkan pendapat para ahli ilmu yang tidak sama dengan pendapatnya.
Wahai anak-anakku....
Sikap yang harus kalian miliki sebagai penuntut ilmu adalah menghormati para ulama, bukan malah meremehkan dan menjelek-jelekan para ulama. Sungguh sikap meremehkan dan tidak menghormati ulama ahli ilmu adalah musibah besar. Disamping hal tersebut akan menghilangkan keberkahan ilmunya, bahkan hal tersebut bisa menimbulkan bencana, atau istilah para santri adalah mendatangkan ‘kualat’. Ada istilah populer di kalangan para ulama dan para penuntut ilmu.
إِنَّ لُحُوْمَ الْعُلَمَاء مَسْمُوْمَةٌ
“Sesungguhnya dagingnya para ulama itu beracun”
Subscribe to:
Posts (Atom)
