Nasihat Ibunda Imam Malik

Imam Malik menuturkan:
Dahulu ibuku menyiapkan imamahku ketika aku masih kecil sebelum aku pergi ke halaqoh-halaqoh ilmu. Maka ibuku mengatakan:
يَا مَالِك، خُذْ مِنْ شَيْخِكَ الْأَدَبَ قَبْلَ الْعِلْمِ
“Wahai Malik, ambillah dari gurumu adabnya sebelum ilmunya!”

pesan pertama ayah

Wahai anak-anakku....., belajarlah secara talaqi (melalui seorang Guru), perhatikan bagaimana akhlak dan adab Gurumu, karena darinya kalian akan mengambil teladan dan perhatikan bagaimana sanad ilmu Gurumu {baik sanad riwayat (silsilah guru) maupun sanad diroyat (silsilah pemahaman)}, karena darinya kalian akan mengambil ilmu. Maka dari itu, carilah Guru yang memiliki akhlak dan adab yang mulia dan memiliki sanad ilmu yang bersambung (tidak terputus) kepada para imam mujtahid, para mufasir, para muhaddist, dan para ulama salaf hingga Rasulullah saw.

Sunday, August 16, 2015

Didikan sang Guru dalam Keluarga

Pernah ada seseorang yang mengaku-aku sebagai pemilik tanahnya al-Habib Umar bin Hafidz. Ia mengatakan bahwa tanah itu adalah miliknya. Maka keesokan harinya Habib Salim, putera Habib Umar, mendatangi orang tersebut dan menjelaskan panjang lebar bahwa tanah itu bukan miliknya tapi milik Habib Umar. Surat-surat resminya pun ada di tangan Habib Umar.


Namun orang tersebut tidak bergeming, tetap ngotot mengakui tanah itu adalah miliknya. Akhirnya dengan terpaksa Habib Salim mendatangi sang ayah, Habib Umar bin Hafidz, seraya menjelaskan semuanya. “Abah, si fulan mengaku-aku tanah kita yang ada di daerah sana adalah miliknya,” tutur sang anak.

Habib Umar malah menanggapi perkataan anaknya itu dengan senyuman, lalu berkata: “Kalau begitu kita ikhlaskan saja tanah itu untuk dia.” 

Sang anak menjadi terheran-heran, barangkali ada yang salah didengar ia mencoba memastikan: “Tapi, bukankah surat-surat resmi tanah itu ada di tangan kita? 

Habib Umar kemudian menjawab: “Salim... kita tidak akan berseteru dengan saudara Muslim kita hanya karena urusan duniawi. Kita tidak akan pernah memperebutkan dunia dengan siapapun. Seandainya dia juga mengakui rumah kita ini, kita akan ikhlaskan rumah ini untuknya. Kita masih bisa tidur di mobil kita.” 

(Diolah dari tulisan Ahmad Afif Tawes, santri Indonesia di Yaman, yang mendengar langsung dari penuturan al-Habib Salim bin Umar bin Hafidz sewaktu mengadakan “ijtima’ khusus” dengan jamaah haji tahun ini).

No comments:

Post a Comment